Budaya Electronic Dance Music di Indonesia

Electronic Dance Music (EDM) kembali mengalami masa kebangkitannya beberapa tahun belakangan. Musik ini berikut seluruh subgenrenya menjadi demam di belantika musik dunia, tak terkecuali di Indonesia. Sekitar dua tahun belakangan, bermunculan nama-nama baru di dunia disc jockey (DJ) yang memproduksi musik-musik EDM berkualitas. Nama mereka pun tidak sedikit yang berhasil menembus pasar internasional dan meraih segudang prestasi. Salah satu produser dan musisi EDM yang paling berpengaruh dan tenar di Indonesia saat ini adalah Dipha Barus. Kiprahnya di dunia DJ melesat sejak 2010, meskipun dia telah mulai bermain musik sejak kecil.

Beberapa waktu belakangan, Indonesia patut berbangga diri karena salah satu karya musik anak bangsa bisa trending di dunia musik internasional melalui kanal-kanal digital, yaitu “Lathi”. Begitu banyak apresiasi diberikan kepada Grup Musik “Weird Genius” yang berhasil menggabungkan musik EDM dengan musik tradisional gamelan sehingga begitu unik didengar serta menimbulkan kesan mistis. Lagu lathi merupakan salah satu lagu EDM yang menggebrak gelantika musik Indonesia dan mulai banyak diminati oleh masyarakat. Lalu, apakah ini merupakan pertanda adanya tren musik baru untuk masa depan musik di Indonesia?

 

Sejarah Electronic Dance Music (EDM)

Electronic Dance Music (EDM) adalah aliran musik yang menggunakan berbagai macam instrumen musik elektronik synthesizer, midi keyboard, turntable, mixer, bass, dan sebagainya. Dengan tangkasnet terbaru kemudahan teknologi, EDM saat ini juga sudah bisa dibuat melalui berbagai aplikasi komputer. Aliran musik ini muncul sejak tahun 1960-an, ketika musisi pop dan rock mulai menyisipkan instrumen elektronik pada musik mereka, seperti bass dan beberapa synthesizer. Kemudian semakin berkembang pada tahun 1970an ketika musik disko mengalami kejayaan, EDM dikenal sebagai musik disko dan kerap diidentikkan dengan ‘dunia malam’.  Kemudian tahun 1980-an muncul genre synthpop yang didominasi oleh synthesizer.

Nah, pada tahun 1990-an, ketika teknologi sudah mulai berkembang, EDM sudah mulai banyak diproduksi menggunakan aplikasi komputer dan banyak orang yang dapat membuat musik EDMnya sendiri. Mulai banyak remix lagu yang dibuat oleh DJ terkenal, yang dikenal dengan sub genre ‘Trance’. Trance ini adalah aliran yang menggabungkan berbagai variasi musik elektronik seperti techno, house, pop, chill out, bahkan musik klasik. Pada tahun 2000-an, EDM semakin berkembang dengan munculnya berbagai subgenre seperti trap (hip-hop elektronik), dubstep, nu-disco, dan electro house. Perkembangan EDM terus berkembang sampai saat ini, dengan munculnya electro-pop yang menggandeng penyanyi-penyanyi terkenal sehingga membuat EDM ini semakin menarik untuk didengarkan.

 

EDM dan Budaya Indonesia

Musik EDM berkembang cukup pesat dikolaborasikan dengan budaya Indonesia. Beberapa diantaranya pada tahun 2017, pemuda asal Mojokerto, Alffy Rev mengaransemen lagu nasional Tanah Air yang dipadukan dengan gamelan. Ia juga mengaransemen lagu Asian Games 2018 dengan dipadukan dengan pengambilan panorama Indonesia yang cukup sinematik. Karya terakhirnya “Mother Earth’ yang dirilis pada tanggal 12 Juni 2020 juga menyisipkan budaya Indonesia berupa gamelan dan tari tradisional yang cukup membuat pendengar ‘merinding’ mendengarnya.

Sebelumnya, Lagu Lathi “Weird Genius” juga menggetarkan dunia musik digital dengan menggabungkan unsur-unsur tradisional sehingga menimbulkan unsur mistis dalam karyanya. Tampaknya, masyarakat Indonesia mulai menyadari kekayaan bangsa Indonesia yang tidak habis-habisnya untuk digali dan diproduksi ulang sehingga tidak mati ditelan zaman, justru menjadi suatu keunikan sendiri bagi perkembangan musik EDM di dunia.

 

Dengan Teknologi Siapapun Bisa Membuat Musik

Perkembangan teknologi berperan besar dalam perkembangan dunia musik digital. Teknologi dengan segala perangkat elektronik dan software dapat memudahkan manusia dalam berkarya, mulai dari pemutaran, rekaman, penyimpanan, komposisi, dan produksi musik. Bahkan saat ini banyak tersedia aplikasi yang dapat diunduh untuk dapat memproduksi musik, seperti FL Studio, Music Maker Jam, Audio Evolution Mobile Studio, Caustic 3, Walk Band, dll.

Adanya kemudahan ini menjadikan setiap orang bisa membuat kreasi musiknya sendiri tanpa harus memiliki alat musik. Artinya, ini merupakan kesempatan bagus bagi orang-orang yang mempunyai bakat bermusik untuk berkarya menghasilkan musik yang berkualitas. Apalagi jika musik yang kita buat dapat sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia di mata dunia. Apakah kamu selanjutnya?

 

Alasan Kenapa Musik EDM Sekarang Lebih Digemari

Musik elektronik atau biasa dikenal dengan istilah EDM (electronic dance music) memang bukan barang baru. Musik EDM beserta turunannya juga bisa dinikmati oleh banyak kalangan, baik yang tua maupun yang muda. Namun, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Nielsen, ternyata sebagian besar pendengar musik EDM merupakan milenial.

Tentunya kegemaran milenial akan musik EDM bukan tanpa alasan lho. Jika mengamati kebiasaan mereka memutar playlist EDM, ternyata salah satu alasan kuatnya karena musik EDM bisa jadi teman mereka dalam mengerjakan tugas. Bahkan EDM merupakan konten yang paling banyak dilihat di YouTube oleh orang yang berumur 25 tahun ke bawah. Berikut ini ada beberapa alasan kenapa musik EDM lebih banyak digemari oleh kalangan anak milenial.

 

  • EDM menyediakan warna musik yang lebih segar dan juga berenergi. Ada kebanyakan musik EDM yang memiliki tempo musik yang upbeat dan juga bersemangat. Hal ini sangat identik dengan semangatnya para milenial yang sedang membara. Apalagi musik EDM juga sangat identik dengan musik yang cocok untuk party yang dimana hal ini kerap dilakukan oleh anak milenial ketika mereka ingin bersenang-senang untuk melepaskan penat yang ada di dirinya.
  • Musik EDM lebih shareable dibandingkan yang lain. Tidak bisa dipungkiri lagi generasi milenial tumbuh pada era media sosial yang dimana mereka akan selalu terhubung dengan internet. EDM yang bisa dibuat lewat software musik tanpa menggunakan banyak alat musik membuat para penciptanya lebih punya kemudahan untuk menyebar musik baru mereka, misalnya lewat situs sharing musik seperti SoundCloud. Dari artis ke para fans, dari fans ke fans lainnya bisa jadi alasan kenapa musik EDM dan milenial bisa cocok.
  • Banyaknya variasi musik EDM yang dapat diekspor. Bisa dibilang, EDM ini mungkin menjadi salah satu musik yang memiliki banyak variasi. Bahkan antara satu jenis musik EDM dengan yang lain bisa terdengar sangat berbeda. Misalnya techno, house, drum & bass, jungle, hingga dubstep yang beberapa tahun belakangan cukup fenomenal, salah satunya berkat Skrillex.
  • Musik EDM banyak didengar oleh orang yang tech savvy. Sebagian besar milenial menghabiskan waktunya berada di dunia maya. Dan para pendengar musik EDM juga gemar menggunakan internet, berhubung mereka pasti menemukan lagu-lagu EDM baru lewat internet. Gak heran juga karena kesukaannya mendengarkan musik EDM di internet, milenial paling tidak pernah mencari informasi mengenai bagaimana caranya menjadi DJ atau nge-remix lagu.
  • Festival musik EDM menjadi salah satu acara yang paling hits. Jika suatu negara mengadakan festival musik bertema EDM, dijamin acara tersebut bakal hits dan tiket masuk pun bisa cepat laku terjual. Selain karena ingin menonton DJ favorit, alasan lainnya karena sebagian besar milenial ingin jadi bagian dari suatu acara yang lagi happening dan gak mau ketinggalan. Di Jakarta sendiri, salah satunya adalah Djakarta Warehouse Project. Acaranya para penggemar musik EDM ini selalu ramai dibanjiri penonton setiap tahunnya. Di DWP, para penonton bisa mendengarkan secara langsung energiknya para DJ kelas dunia dalam memainkan lagu hits mereka